Bisnis fintech di Indonesia telah mengalami perkembangan pesat selama dua tahun terakhir– dari hanya beberapa nama, kini jumlahnya telah mencapai lebih dari 140 pemain bisnis di tahun 2016. Kalangan investor pun mulai turut menjajaki peluang investasi di sektor yang sedang tumbuh ini. Buktinya, tahun lalu, sektor fintech menjadi bisnis kedua yang paling banyak dibiayai, dengan total 11 investasi baru, dan sektor e-commerce menduduki posisi pertama.

Perlu diakui, industri e-commerce memang sedang merajai pasar Indonesia dan diprediksikan untuk terus melesat beberapa tahun ke depan. Namun, satu hal yang bisa menghambat pertumbuhannya adalah rumitnya mengatur metode pembayaran, terutama pembayaran online yang menjadi poin penting industri e-commerce. Dari segi teknis contohnya, bisa memakan waktu cukup banyak untuk memahami cara integrasi metode pembayaran, hingga bahkan harus pergi ke bank satu per satu untuk pengurusan. Dan masih ada biaya tambahan lainnya seperti missed revenue opportunities atau biaya penyewaan jaringan.

Atas dasar itulah, sebanyak 40% dari pemain bisnis fintech di Indonesia memutuskan untuk bergerak di sektor pembayaran online. Tujuannya adalah untuk memajukan sistem pembayaran yang ada agar mampu mendukung pertumbuhan e-commerce di Indonesia.

Tapi seberapa besar sebenarnya peluang pembayaran online di Indonesia hingga membuat banyak pemain bisnis baru bermunculan dan para investor tertarik? Lalu apa dampaknya pada pasar? Berikut adalah ulasan singkatnya untuk memberikan gambaran.

 

Pembayaran Online E-Commerce

Pembayaran Online E-Commerce

 

Potensi besar pasar Indonesia

Industri ekonomi digital dalam negeri diperkirakan akan terus tumbuh karena adanya faktor-faktor pendukung, seperti pasar online yang sedang berkembang (81 miliar dollar AS atau setara dengan 1.071 trilliun Rupiah di tahun 2025), populasi muda yang paham teknologi (rata-rata di umur 30), menanjaknya populasi kelas menengah (141 juta jiwa pada tahun 2020) yang diiringi dengan meningkatnya daya beli, jumlah pengguna internet yang tinggi (132 juta pengguna), dan penetrasi ponsel yang luas (126%).

Namun, statistik positif ini terganjal oleh rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat di bidang keuangan (financial literacy). Sebanyak 64% populasi Indonesia belum memiliki rekening bank dan kurang dari 10% yang sudah mempunyai kartu kredit. Artinya, mayoritas penduduk Indonesia masih sangat bergantung pada tunai. 

Hal ini menjelaskan mengapa tingkat pembelian dan pembayaran online masih rendah, terlepas meningkatnya  pengguna internet dan daya beli masyarakat Indonesia tiap tahunnya. Akibatnya, pertumbuhan industri e-commerce di Indonesia pun berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.

Ketergantungan terhadap uang tunai, rumitnya sistem pembayaran, dan kurangnya infrastruktur menjadi tantangan tersendiri bagi industri e-commerce Nusantara. Meskipun sistem pembayaran di tempat (Cash On Delivery) menjadi alternatif pembayaran pilihan dari pembeli yang tidak memiliki rekening, namun risiko penipuan, waktu pelunasan yang panjang, dan elemen biaya lainnya cukup menurunkan minat untuk menggunakan metode pembayaran ini.

Untuk itulah, diperlukan ‘gebrakan’ dalam sistem pembayaran untuk memfasilitasi pembeli, baik yang sudah memiliki rekening maupun belum, agar bisa turut berpatisipasi di ekonomi digital ini. Di sinilah peran pengusaha pembayaran online dibutuhkan.


Semua mencoba, namun belum ada pemain dominan

Pertumbuhan e-commerce yang masih belum dilengkapi dengan instrumen pembayaran adalah peluang bisnis yang besar. Banyak pengusaha baik dari sektor finansial maupun non-finansial memutuskan untuk memanfaatkan peluang besar ini.

Grup lain yang juga beruntung karena memiliki data pengguna yang besar adalah perusahaan-perusahaan telekomunikasi. Tiga operator telekomunikasi terbesar seperti Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata, sudah memiliki layanan e-wallet mereka sendiri. Telekomunikasi Indonesia, yang merupakan perusahaan induk dari Telkomsel, juga sudah mengembangkan produk ‘gerbang pembayaran’ atau payment gateway yang bernama Finpay.

Grup lain yang beroperasi di sektor pembayaran online adalah pemain payment gateway seperti Xendit. Sebagai payment gateway, Xendit memungkinkan pedagang online dan juga pemain e-commerce untuk menerima pembayaran dari kartu kredit, transfer bank, atau bahkan virtual account. Xendit memudahkan pembayaran dengan mengatur riwayat bukti pembayaran, mengirimkan notifikasi singkat ketika pembayaran dilakukan, dan menggunakan konsep integrasi tunggal yang menghubungkan pengguna dengan semua metode pembayaran.

 

Pembayaran Online dengan Kartu Kredit

Pembayaran Online dengan Kartu Kredit

 

Menyadari adanya peluang dan kebutuhan yang tinggi terhadap pembayaran online, beberapa platform e-commerce juga mulai mengembangkan sistem pembayaran online mereka sendiri, termasuk Lazada (HelloPay), BukaLapak (BukaDompet), Tokopedia (TokoCash dan Saldo Tokopedia), dan Kaskus (Kaspay). Bahkan operator transportasi online seperti GoJek dan Grab juga mulai menyediakan fasilitas pembayaran elektronik melalui GoPay dan GrabPay.

Kondisi industri yang dipenuhi banyak pemain dari berbagai sektor ini berujung pada ketiadaan pemain dominan, setidaknya hingga saat ini. Sektor pembayaran elektronik masih menyediakan banyak ruang untuk para pemain bisnis untuk bertumbuh dan berkolaborasi dengan satu sama lain.

Regulasi pembayaran online kini sedang dalam proses

Potensi besar sektor pembayaran online dinilai pemerintah sebagai motor utama yang akan mendorong finansial inklusif di Indonesia. Banyak usaha yang telah dilakukan pemerintah untuk mengampanyekan sistem pembayaran online agar bisa beroperasi secara penuh, misalnya dengan menjalankan sistem e-card untuk transportasi publik, meluncurkan Kantor FinTech, dan mengembangkan National Payment Gateway atau Gerbang Pembayaran Nasional.

Pemerintah juga telah memperkenalkan regulasi pembayaran online yang mencakup kewajiban bagi pemain bisnis dalam hal perizinan, persetujuan, dan pelaporan. Namun, masih ada tantangan lain dalam bentuk hambatan regulasi. Banyak pemain yang merasa bahwa regulasi ini belum terlalu jelas dan masih lambat dalam proses implementasinya.

Semenjak diresmikan pada tahun 2009, hanya 24 pemain bisnis di sektor pembayaran online yang telah memiliki izin resmi, per Juni 2017. Karena itu, untuk memajukan sektor potensial ini, regulasi yang lebih jelas dan lebih kondusif sangat diperlukan. Pemerintah juga perlu memberikan edukasi lebih ke pasar untuk semakin meningkat financial literacy masyarakat Indonesia.

Baca juga: Tiga Metode Pembayaran Terpopuler di Indonesia

Ikhsan Rahardian

Head of Product at Xendit.